Dalam buku In Search of Excellence (Tom Peters & R.H. Waterman), ada secuil cerita menarik dari Gordon Siu. Siu menceritakan tentang eksperimen di mana beberapa ekor lebah dan beberapa ekor lalat ditempatkan di dalam sebuah botol. Botol tersebut lalu diletakkan horisontal (memanjang) dengan bagian pantatnya yang tertutup dihadapkan ke jendela yang terkena sinar matahari, sementara bagian leher botol yang terbuka membelakangi jendela.
Lebah-lebah, yang terkenal sebagai salah satu serangga tercerdas, mati-matian berusaha keluar dari botol dengan terbang menuju ke arah jendela. Kecerdasan mereka mengajarkan kalau arah tercepat untuk pulang ke rumah adalah dengan keluar dari jendela. Karena itu, mereka bertekad terbang menuju ke arah jendela apa pun resikonya. Namun karena arah tersebut tertutup bagian belakang botol, usaha mereka berakhir tragis. Para lebah akan mencoba sampai satu per satu mati kecapaian.
Sementara lalat, yang terkenal sebagai serangga bodoh dengan otak secuil, terbang kesana kemari tanpa tujuan yang jelas. Walau demikian, perlahan-lahan tapi pasti, satu per satu dari mereka berhasil menemukan jalan keluar melalui leher botol.
Apa artinya hasil eksperimen tersebut buat kita?
Kecerdasan, ternyata bukanlah modal utama buat sukses, terutama bila aturan permainan berubah drastis. Lebah yang cerdas memang akan mencapai tujuan lebih cepat dibanding lalat bila mereka tidak terperangkap di dalam botol tersebut. Tetapi begitu lingkungan berubah (terperangkap di dalam botol yang diletakkan membelakangi jendela), kecerdasan mereka berbuah bencana. Justru upaya coba-coba yang dilakukan lalat adalah strategi yang lebih tepat. Kecerdasan kadang bisa membutakan kita dengan membuat kita melihat masalah melalui kaca mata kuda. Kita hanya bisa melihat satu arah saja tanpa mempertimbangkan kemungkinan lain, sementara untuk menghadapi perubahan, fleksibilitas lebih dibutuhkan. (Seperti kata pepatah: bila kita memegang palu, semua kelihatan seperti paku.)
Hal yang sama juga berlaku untuk penentuan strategi perusahaan dan rencana masa depan pribadi. Dalam konteks dunia yang berubah cepat ini, apakah strategi yang Anda jalankan mengikuti cara lebah yang keras kepala atau lalat yang mencoba arah lain ketika menemukan kegagalan?
sumber dari sini
Ketika seorang wanita muda mengunjungi studio Michelangelo, dia terkagum-kagum dengan patung-patung karya seniman besar tersebut dan berkata, "Saya tidak tahu memahat begitu mudah. Saya pasti bisa melakukannya juga."
Michelangelo menjawab, "Tentu saja Anda bisa. Apa yang Anda butuhkan hanyalah batu besar, sebuah pahat, dan palu. Lalu Anda tinggal membuang bagian-bagian yang tidak Anda butuhkan."
Demikianlah dengan Anda dan kita semua. Anda adalah mahakarya yang indah. Semua potensi untuk berhasil sudah ada di dalam diri Anda. Apa yang dibutuhkan hanyalah membuang bagian-bagian yang menghalangi Anda untuk menjadi "indah".
sumber : dari sini
Alkisah, jaman dulu di Baghdad, hiduplah seorang bijak bernama Hakeem. Karena dia suka membagi-bagikan nasehat secara gratis, banyak yang datang berkonsultasi dengannya.
Suatu saat, seorang pemuda datang menghadap Hakeem. Sepanjang hidupnya dia sudah berusaha menjadi kaya. Semua jenis usaha sudah dijalaninya. Tetapi sejauh ini dia masih belum berhasil. Karena itu, dia bertanya kepada Hakeem, "Katakanlah orang bijak, bagaimana saya bisa memperoleh hal-hal yang saya dambakan dalam hidup ini?"
Hakeem menjawab, "Barang yang diperjualbelikan tidak akan memiliki nilai kecuali ia mengandung apa yang tidak bisa dibeli dan dijual. Carilah hal yang tak ternilai itu."
"Tetapi apa yang tak ternilai itu?" tanya si pemuda, penasaran.
Si orang bijak itu menjawab, "Anakku, hal tak ternilai tersebut adalah kehormatan dan integritas dari pembuatnya."
Pertimbangkanlah nasehat tersebut. Kehormatan dan integritas adalah syarat mutlak yang kita butuhkan untuk berhasil atau bahagia. Memang memiliki keduanya tidak akan menjamin kesuksesan kilat, tetapi dalam jangka panjang, reputasi yang berhasil dibangun dengan memiliki kedua hal tersebut akan lebih berharga dari hal-hal lainnya.
sumber : dari sini
Syuraih Al Qadhi pernah menceritakan kehidupan rumah tangganya kepada seorang sahabat, Asy Sya'bi. "Sejak dua puluh tahun yang lalu aku tidak pernah melihat istriku berbuat sesuatu yang membuatku marah," kata Syuraih.
"Mengapa demikian?" tanya As Sya'bi.
"Mulai malam pertama yang pertama aku lihat padanya adalah keindahan dan kecantikan belaka. Pada malam pertama, aku berniat dalam hati unutk menjalankan shalat dua rakaat sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT. Ketika aku menoleh untuk melakukan salam, aku melihat istriku pun mengulurkan tangannya seraya berkata, 'Selamat datang wahai Abu Umayah. Alhamdulillah aku memuji dan memohon pertolongan-Nya. Semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad saw. dan keluarganya. Sungguh, aku adalah perempuan asing bagimu. Aku sama sekali tidak tahu akhlakmu. Terangkanlah kepadaku apa-apa yang engkau senangi dan yang tidak engkau senangi. Apa-apa yang engkau senangi akan aku penuhi, sedangkan yang tidak engkau sukai aku akan berusaha menjauhinya.'
'Aku yakin,' lanjut istriku, 'diantara kaummu pasti ada orang yang ingin mengawinkan wanitanya denganmu. Begitu pula kaumku, ada laki-laki yang sekufu denganku. Akan tetapi, apa yang telah ditetapkan Allah harus dilaksanakan. Nah sekarang aku telah menjadi milikmu. Lakukanlah sesuai dengan yang telah diperintahkan Allah. Aku mengucapkan ini dengan memohon ampun kepada Allah untukku dan untukmu.'
Demi Allah, Sya'bi, dalam keadaan seperti itu akan amat membutuhkan khutbah seperti yang diucapkan istriku," papar Syuraih kepada sahabatnya.
Aku pun menyambut ungkapan istriku, "Alhamdulillah segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam untuk Nabi Muhammad saw. dan keluarganya. Engkau telah mengatakan sesuatu yang jika engkau teguh memegangnya maka itulah bagianmu. Jika engkau hanya berpura-pura maka menjadi hujjah atasmu. Apa yang kamu lihat baik maka sebarkanlah, apa yang engkau lihat jelek maka buanglah jauh-jauh."
"Apakah engkau senang mengunjungi keluargaku?" tanya istriku.
"Aku ingin suami anak perempuanku tidak membosankanku," jawabku.
"Siapa saja tetangga yang kamu senangi yang dapat aku izinkan masuk rumah? Siapa pula yang kau benci agar aku tidak membiarkannya masuk ke rumahmu?" tanya istriku.
"Maka, aku pun menghabiskan malam pertama tersebut dengan perbincangan penuh dengan kelembutan dan kebahagiaan. Aku hidup bersamanya. Selama satu tahun pertama, aku tidak pernah melihat darinya, kecuali yang menyenangkan," ungkap Syuraih.
Demikianlah Syuraih menceritakan kebahagiaan keluarganya kepada As Sya'bi. Dari ceritanya, tampak suasana malam pertama Syuraih dengan istrinya yang sedemikian indah. Mereka bercengkerama, saling membuka diri, saling mengenali. Itulah awal kehidupan baru yang indah
Setelah Raden Mas Said meninggal dunia, kekuasaan trah Mangkunegaran diteruskan oleh putra-putra beliau. Pada masa kekuasaan KGPAA Mangkunegara VII terjadi peristiwa penting sekitar tahun 1923 M yakni perubahan status daerah Wonogiri yang dahulu hanya berstatus kawedanan menjadi Kabupaten. Saat itu Wedana Gunung Ngabehi Warso Adiningrat diangkat menjadi Bupati Wonogiri dengan pangkat Tumenggung Warso Adiningrat. Akibat perubahan status ini, wilayah Wonogiri pun dibagi menjadi 5 kawedanan yaitu kawedanan Wonogiri, Wuryantoro, Baturetno, Jatisrono dan Purwantoro.
Pada saat itu di wilayah kekuasaan Mangkunegaran dilakukan penghematan anggaran keraton dengan menghapuskan sebagian wilayah Kabupaten yaitu Kabupaten Karanganyar sehingga wilayah Mangkunegaran manjadi dua yaitu Kabupaten Mangkunegaran dan Kabupaten Wonogiri. Ini berlangsung sampai tahun 1946.
Dalam perkembangannya, rakyat Wonogiri pada masa pendudukan Jepang dan tentara sekutu, bersama-sama dengan rakyat Indonesia pada umumnya tidak bisa dilepaskan dari penderitaan dan kekejaman penjajahan. Rakyat Wonogiri bersama dengan rakyat Indonesia tergugah dan bersatu padu melawan segala bentuk penindasan yang dilakukan oleh bangsa Belanda maupun Jepang. Semangat pemuda Wonogiri yang tidak kenal menyerah dan ulet seakan telah menjadi karakter tersendiri dalam berjuang memperbaiki nasib dan taraf kehidupan.
Sejak Republik Indonesia merdeka, tanggal 17 Agustus 1945 sampai tahun 1946 di wilayah Mangkunegaran terjadi dualisme pemerintahan, yaitu Kabupaten Wonogiri masih dalam wilayah monarki Mangkunegaran dan di lain pihak menginginkan Kabupaten Wonogiri masuk dalam sistem demokrasi Republik Indonesia. Timbulah gerakan Anti Swapraja yang menginginkan Wonogiri keluar dari sistem kerajaan Mangkunegaran. Akhirnya disepakati bahwa Kabupaten Wonogiri tidak menghendaki kembalinya Swapraja Mangkunegaran.
Sejak saat itu Kabupaten Wonogiri mempunyai status seperti sekarang, dan masuk sebagai Kabupaten yang berada diwilayah Propinsi Jawa Tengah. Berikut adalah nama Bupati Wonogiri setelah masa kemerdekaan :
1 . KRT. Soetojo Harjo Reksono ( 1946 - 1948)
2 . R. Danupranoto ( 1948-1950)
3 . R. Agus Miftah Danoekoesoemo ( 1950-1953)
4 . R. Sentot Wongsoatmodjo ( 1953-1956)
5 . R. Soetarko ( 1956-1957)
6 . R. Poerwo Pranoto (1958)
7 . Yacob Danoeatmojo ( 1958- 1959)
8 . RM. Ng. Broto Pranoto ( 1960- 1966)
9 . R. Samino ( 1967-1974)
10 . RM. Soemoharmoyo ( 1974- 1979)
11 . Drs. Agoes Soemadi ( 1979- 1980)
12 . R. Soediharto ( 1980-1985)
13 . Drs. Oemarsono ( 1985-1995)
14 . Drs. Tjuk Susilo ( 1995-2000)
15 . H. Begug Poernomosidi (2000-sekarang)
Dengan mengambil momentum tanggal 19 Mei 1741 M yang merupakan tanggal Raden Mas Said membentuk sebuah awal pemerintahan di Nglaroh yang merupakan cikal bakal Kabupaten Wonogiri maka Pemerintah Kabupaten Wonogiri menetapkan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 1990 tentang Hari Jadi Kabupaten Daerah Tingkat II Wonogiri. Hari Jadi suatu daerah pada hakekatnya adalah merupakan awal perjalanan sejarah dan titik tolak untuk menatap masa depan dengan pembangunan secara sistematis dan berkesinambungan.
Berdasarkan budaya Jawa bahwa tahun 1741 mengandung makna surya sengkala yaitu : 1741 (Kahutaman Sumbering Giri Linuwih). arti kata yang terkandung didalamnya adalah Kahutaman : keberanian; Sumbering : sumber kekuatan; Giri : Gunung/Wonogiri; dan Linuwih : tertinggi. Sehingga jika digabungkan mengandung maksud filosofis yakitu : Dengan Keberanian atas dasar keluhuran budi, tekad dan semangat, segala tujuan luhur akan tercapai.
Hari Jadi Kabupaten Wonogiri merupakan salah satu jati diri daerah yang perlu dihormati, dilestarikan dan diperingati oleh segenap jajaran Pemerintah Daerah dan seluruh lapisan masyarakat dengan menumbuhkan semangat juang, patriotisme, kesatuan bangsa, kemndirian, suri tauladan dan nilai budaya luhur para leluhur bagi generasi muda untuk mencapai cita-cita bangsa. Sudah menjadi agenda tahunan setiap tanggal 19 Mei di Kabupaten Wonogiri digelar serangkaian upacara dan kegiatan dalam rangka memeriahkan peringatan Hari Jadinya dan sekaligus sebagai sarana mempromosikan potensi wisata budaya yang ada di Kabupaten Wonogiri.
Sekarang Kabupaten Wonogiri sudah menjadi sebuah Kabupaten yang memiliki berbagai keunggulan diberbagai bidang berkat kerja keras, keuletan, kemandirian dan semangat pantang menyerah seluruh rakyat dan semua komponen di Kabupaten Wonogiri dalam pembangunan. Kesadaran rakyat Wonogiri sangat tinggi dalam berpartisipasi untuk membangun daerah yang dulunya tandus menjadi daerah yang potensial dibidang ekonomi, sosial kebudayaan pariwisata, dan olahraga.
Sumber : mastrisno, jawapalace, halosugriwo, Tabloid Gema Wonogiri, buku sejarah terjadinya pemerintahan di Wonogiri, dan sumber lain
Selanjutnya ......
Sejarah terbentuknya Kabupaten Wonogiri tidak bisa terlepas dari perjalanan hidup Raden Mas Said atau dikenal dengan sebutan Pangeran Sambernyawa. Kata Wonogiri sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti wana (alas/sawah) dan giri (gunung/pegunungan) sehingga nama itu sangat cocok dengan kondisi wilayahnya yang memang sebagian besar berupa hutan dan gunung".
Pemerintahan di Kabupaten Wonogiri awal mulanya merupakan suatu daerah basis perjuangan Raden Mas Said dalam menentang penjajahan Belanda. Raden Mas Said lahir di Kartasuro pada hari Minggu Legi, tanggal 4 Ruwah Jimakir 1650 tahun Jawa, Windu Adi Wuku Wariagung, atau pada tanggal 8 April 1725 M. Raden Mas Said merupakan putra dari Kanjeng Pangeran Aryo Mangkunegoro dan Raden Ayu Wulan yang wafat saat melahirkannya. Pada usia baru 2 tahun, Raden Mas Said harus kehilangan ayahandanya karena dibuang oleh Belanda ke Tanah Kaap (Ceylon) atau Srilanka. Hal itu karena ulah keji berupa fitnah dari Kanjeng Ratu dan Patih Danurejo. Akibatnya, Raden Mas Said mengalami masa kecil yang jauh selayaknya seorang bangsawan Keraton. Raden Mas Said menghabiskan masa kecil bersama anak-anak para abdi dalem lainnya sehingga mengerti betul bagaimana kehidupan kawula alit. Hikmah dibalik itulah yang menempa Raden Mas Said menjadi seorang yang mempunyai sifat kepedulian terhadap sesama dan kebersamaan yang tinggi karena kedekatan beliau dengan abdi dalem yang merupakan rakyat kecil biasa.
Pada suatu saat terjadi peristiwa yang membuat Raden Ms Said resah, karena di Keraton terjadi ketidakadilan yang dilakukan oleh Raja (Paku Buwono II) yang menempatkan Raden Mas Said hanya sebagai Gandhek Anom (Manteri Anom) atau sejajar dengan Abdi Dalem Manteri. Padahal kedudukan Raden Mas Said seharusnya sebagai Pangeran Sentana. Melihat hal ini, Raden Mas Said ingin mengadukan ketidakadilan kepada sang Raja, akan tetapi pada saat di Keraton oleh sang Patih Kartasura ditanggapi dingin. Dan dengan tidak berkata apa-apa sang Patih memberikan sekantong emas kepada Raden Mas Said. Perilaku sang Patih ini membuat Raden Mas Said malu dan sangat marah, karena beliau ingin menuntut keadilan bukan untuk mengemis.
Raden Mas Said bersama pamannya Ki Wiradiwangsa dan Raden Sutawijaya yang mengalami nasib sama mengadakan perundingan untuk membicarakan ketidakadilan yang menimpa mereka. Akhirnya Raden Mas Said memutuskan untuk keluar dari keraton dan mengadakan perlawanan terhadap Raja.
Raden Mas Said bersama pengikutnya mulai mengembara mencari suatu daerah yang aman untuk kembali menyusun kekuatan. Raden Mas Said bersama para pengikutnya tiba disuatu daerah dan mulai menggelar pertemuan- pertemuan untuk menghimpun kembali kekuatan dan mendirikan sebuah pemerintahan biarpun masih sangat sederhana. Peristiwa itu terjadi pada hari Rabu Kliwon tanggal 3 Rabiulawal (Mulud) tahun Jumakir , windu segoro : Angrasa Retu Ngoyag Jagad atau tahun 1666 dalam kalender Jawa. Dan dalam perhitungan dalam kalender Masehi bertepatan dengan hari Rabu Kliwon tanggal 19 Mei 1741 M.
Daerah yang dituju Raden Mas Said itu adalah Dusun Nglaroh (sekarang wilayah di Kecamatan Selogiri) dan disana Raden Mas Said duduk di sebuah batu guna mempimpin pertemuan- pertemuan dengan para pengikutnya untuk menyusun strategi melawan ketidakadilan. Batu ini dikemudian hari dikenal sebagai Watu gilang yang merupakan tempat awal mula perjuangan Raden Mas Said dalam melawan ketidakadilan dan segala bentuk penjajahan. Bersama dengan pengikut setianya, dibentuklah pasukan inti kemudian berkembang menjadi perwira-perwira perang yang mumpuni dengan sebutan Punggowo Baku Kawandoso Joyo. Dukungan dari rakyat Nglaroh kepada perjuangan Raden Mas Said juga sangat tinggi yang disesepuhi oleh Kyai Wiradiwangsa yang diangkat sebagai Patih. Dari situlah awal mula suatu bentuk pemerintahan yang nantinya menjadi cikal bakal Kabupaten Wonogiri.
Dalam mengendalikan perjuangannya, Raden Mas Said mengeluarkan semboyan yang sudah menjadi ikrar sehidup semati yang terkenal dengan sumpah "Kawulo Gusti " atau "Pamoring Kawulo Gusti" sebagai pengikat tali batin antara pempimpin dengan rakyatnya, luluh dalam kata dan perbuatan, maju dalam derap yang serasi bagaikan keluarga besar yang sulit dicerai-beraikan musuh. Ikrar tersebut berbunyi "Tiji tibeh, Mati Siji Mati Kabeh, Mukti Siji Mukti Kabeh. Curigo Manjing Warongko, Warongko Manjing Curigo" . Ini adalah konsep kebersamaan antara pimpinan dan rakyat yang dipimpin maupun sesama rakyat.
Raden Mas Said juga menciptakan suatu konsep manajemen pemerintahan yang dikenal sebagai Tri Darma yaitu pertama adalah Mulat Sarira Hangrasa Wani , artinya berani mati dalam pertempuran karena dalam pertempuran hanya ada dua pilihan hidup atau mati. Berani bertindak menghadapi cobaan dan tantangan meski dalam kenyataan berat untuk dilaksanakan. Sebaliknya, disaat menerima anugerah baik berupa harta benda atau anugerah lain, harus diterima dengan cara yang wajar. Hangrasa Wani, mau berbagi bahagia dengan orang lain.
Kedua adalah Rumangsa Melu Handarbeni , artinya merasa ikut memiliki daerahnya, tertanam dalam sanubari yang terdalam, sehingga pada akhirnya pada akhirnya akan menimbulkan perasaan rela berjuang dan bekerja untuk daerahnya. Merawat dan melestarikan kekayaan yang terkandung didalamnya.
Ketiga adalah Wajib Melu Hangrungkebi , artinya dengan merasa ikut memiliki timbul kesadaran untuk berjuang hingga titik darah penghabisan untuk tanah kelahirannya.
Kegigihan Raden Mas Said dalam memerangi musuh-musuhnya sudah tidak diragukan lagi, bahkan hanya dengan prajurit yang jumlahnya sedikit Ia tidak akan gentar melawan musuh sampai titik darah penghabisan. Raden Mas Said merupakan panglima perang yang mumpuni, terbukti selama hidupnya Ia sudah melakukan tidak kurang 250 kali pertempuran dengan tidak menderita kekalahan yang berarti. Dari sinilah Raden Mas Said mendapat julukan "Pangeran Sambernyawa" karena beliau dianggap sebagai penebar maut (Penyambar Nyawa) bagi siapa saja musuhnya pada setiap pertempuran.
Berkat keuletan dan ketangguhan Raden Mas Said dalam taktik pertempuran dan bergerilya sehingga luas wilayah perjuangannya meluas meliputi Ponorogo, Madiun dan Rembang bahkan sampai daerah Yogyakarta. Pada akhirnya atas bujukan Sunan Paku Buwono III, Raden Mas Said bersedia diajak ke meja perundingan guna mengakhiri pertempuran.
Dalam perundingan yang melibatkan Sunan Paku Buwono III, Sultan Hamengkubuwono I dan pihak Kompeni Belanda maka disepakati bahwa Raden Mas Said mendapat daerah kekuasaan dan diangkat sebagai Adipati Miji atau mandiri bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegoro I . Penetapan wilayah kekuasaan Raden Mas Said terjadi pada tanggal 17 Maret 1757 melalui sebuah perjanjian di daerah Salatiga. Kedudukannya sebagai Adipati Miji sejajar dengan kedudukan Sunan Paku Buwono III dan Sultan Hamengkubuwono I dengan daerah kekuasaan meliputi wilayah Keduwang (daerah Wonogiri bagian timur), Honggobayan (daerah timur laut Kota Wonogiri sampai perbatasan Jatipurno dan Jumapolo Kabupaten Karanganyar), Sembuyan (daerah sekitar Wuryantoro dan Baturetno), Matesih, dan Gunung Kidul.
Dalam masa pemerintahan KGPAA Mangkunegoro I membagi wilayah Kabupaten Wonogiri menjadi 5 daerah yang masing- masing memiliki ciri khas atau karakteristik yang digunakan sebagai metode dalam menyusun strategi kepemimpinan. Pembagian wilayah dengan karakteristik berbeda itu adalah pertama, daerah Nglaroh (wilayah Wonogiri bagian utara, sekarang masuk wilayah kecamatan Selogiri). Sifat rakyat daerah ini adalah Bandol Ngrompol yang berarti kuat dari segi rohani dan jasmani, memiliki sifat bergerombol atau berkumpul. Karakteritik ini sangat positif dalam kaitannya untuk menggalang persatuan dan kesatuan. Rakyat di daerah Nglaroh juga bersifat pemberani, suka berkelahi, membuat keributan akan tetapi jika bisa memanfaatkan potensi rakyat Nglaroh bisa menjadi kekuatan dasar yang kuat untuk perjuangan.
Kedua adalah daerah Sembuyan (wilayah Wonogiri bagian selatan sekarang Baturetno dan Wuryantoro), mempunyai karakter sebagai Kutuk kalung Kendho yang berarti bersifat penurut, mudah diperintah pimpinan atau mempunyai sifat paternalistik.
Ketiga adalah daerah Wiroko (merupakan wilayah sepanjang kali Wiroko atau bagian tenggara Kabupaten Wonogiri sekarang masuk wilayah kecamatan Tirtomoyo). Masyarakat didaerah ini mempunyai karakter sebagai Kethek Seranggon yang berarti mempunyai kemiripan seperti sifat kera yang suka hidup bergerombol, tetapi sulit diatur, mudah tersinggung dan kurang memperhatikan dalam hal tata krama sopan santun. Jika didekati mereka kadang kurang mau menghargai orang lain, dan jika dijauhi mereka akan sakit hati. Ungkapan Jawa yang pas untuk menggambarkan sifat ini adalah gampang-gampang angel (gampang-gampang susah).
Keempat adalah daerah Keduwang (wilayah Wonogiri bagian timur) masyarakatnya mempunyai karakter sebagai Lemah Bang Gineblegan. Sifat ini bagai tanah liat yang bisa padat dan dapat dibentuk jika ditepuk-tepuk. Masyarakat daerah ini suka berfoya-foya, boros dan sulit untuk melaksanakan perintah. Akan tetapi bagi seorang pemimpin yang tahu dan paham karakter sifat dan karakteristik mereka, ibarat mampu menepuk-nepuk layaknya sifat tanah liat, maka mereka akan mudah diarahkan ke hal yang bermanfaat.
Dan terakhir adalah daerah Honggobayan (daerah timur laut Kota Wonogiri sampai perbatasan Jatipurno dan Jumapolo Kabupaten Karanganyar) mempunyai karakter seperti Asu Galak Ora Nyathek. Karakteristik masyarakat disini bagaikan anjing galak yang suka menggonggong akan tetapi tidak suka menggigit. Sepintas dilihat dari tutur kata dan bahasanya, masyarakat Honggobayan memang kasar dan keras menampakkan sifat sombong dan congkak serta tinggi hati, dan yang terkesan adalah sifat kasar menakutkan. Akan tetapi mereka sebenarnya baik hati, perintah pimpinan akan dikerjakan dengan penuh tanggungjawab.
Dengan memahami sifat yang menjadi ciri khas daerah-daerah tersebut, Raden Mas Said menerapkan cara yang berbeda dalam memerintah dan mengendalikan rakyat diwilayah kekuasaannya. Dengan demikian akan tercapai penggalian potensi yang maksimal demi kemajuan dalam membangun wilayah tersebut.
source dari sini
Ehm… bosen ngoprek hp tanpa sistem operasi ( Java ), gw jadi pingin mencoba juga hp yang pakai sistem operasi ( Symbian ). Kebetulan kemarin dapat hp Nokia 3230 berwarna hitam yang murah, tetapi kondisi masih mulus dan aduhai dari temen gw. Karena harga cocok, jadi dech gw pakai juga Nokia. Padahal gw sebelumnya nggak pernah pakai hp Nokia, kecuali kalo bantuin install software aja di hp Nokia 6600 milik mantan pacar gw :D
Sebenarnya gw naksir sama hp Nokia E50 yang khusus buat pekerja tulen, tetapi hunting di kota gw ngga ada. Pas tanya-tanya ke toko seluler, terlambat gw mendapatkan hp Nokia E50, alias keduluan ama pembeli lainnya. Jadi yach, terpaksa gw tunda dulu dech! Hiks…
Sudah dapat hp yang pakai Symbian, gw terus ngoprek dengan referensi hasil browsing di internet. Beberapa triks yang bisa di lakukan di hp Nokia 3230, antara lain :
* Tekan tombol *#06# untuk mengetahui nomor IMEI
* Tekan tombol *#0000# untuk mengetahui Firmware yang dipakai
* Tekan tombol *#2820# untuk mengetahui alamat Bluetooth di hp
* Dapat dilakukan Soft Reset dengan tekan tombol *#7780# dan Security Code 12345 ( jika belum diubah ) untuk mengembalikan hp ke Factory Setting, tanpa merubah atau menghapus data yang ada di hp
* Dapat dilakukan Hard Reset dengan tekan tombol *#7370# dan Security Code 12345 ( jika belum diubah ) untuk mengembalikan hp ke kondisi pertama kali, dimana semua data akan terhapus total karena hp di format
* Jika hp mengalami crash atau tidak bisa boot ( startup ) dapat dilakukan Hard Reset dengan cara sbb :
* Sebelumnya isi baterai hp sampai penuh ( dengan charger )
* Backup semua data ke PC atau Laptop, atau ke MMC
* Switch Off hp Nokia 3230
* Tekan 3 tombol; Green Dial + * + tombol angka 3 di keypad, dan kemudian tekan tombol Power On/Off di hp Nokia 3230. Perlu diingat jangan sampai penekanan tombol dilepas sebelum terlihat tampilan Format Screen
* Setelah beberapa menit proses berlangsung, maka hp Nokia 3230 yang di Hard Reset akan kembali ke kondisi pertama kali kembali.
* Nambahin nich! Semua yang dilakukan menjadi tanggung jawab masing2 ya… ;)
Untuk aplikasi yang patut dicoba di hp yang pakai sistem operasi Symbian, bisa di baca dan di download di S60 Home, Dotsis, SymbianOne, dan All About Symbian. Jangan lupa, kalo pakai hp yang pakai sistem operasi Symbian, di-install juga anti virus khusus buat ponsel, buat proteksi karena sistem operasi Symbian rentan terhadap virus ponsel yang sudah up to date saat ini.
Kopas tanpa edit dari alamat ini
